Langsung ke konten utama

Berpuisi


Lima Adegan
Efriansyah




I
Sebuah Cafe di Balikpapan Baru
Pada bangku bangku berkerumun para Dara
Pada plafon berbaris lampu-lampu
Lalu kau tampak berpijar menyerupa lampu
Menyilaukan,  menyelinap, memasuki pikiranku

II
Dari Resepsi menuju Bioskop
Anggun nian kau hari ini, serupa teduh
Hai silauku lima puluh hari yang lalu
Aku rindu meski enggan menatapmu
Dalam keramaian para Dara berkebaya, ingin aku menggandengmu,
bersilang siku bagai raja dan ratu
Walau sebenarnya aku hanya termangu menatapmu

***
Film dimulai, lampu Bioskop dimatikan
Aku menatapmu, kau berpijar lagi
Aku lebih memilih silau ketimbang layar
Aku melewatkan film tapi tidak melewatkanmu

III
Angkringan
Kita berhadapan - malu - bergantian menatap
Kau menaruh siku diatas meja, aku juga supaya seirama
Kita tak banyak bicara, tapi aku merasa mesra
Aku menghafal aroma dan rautmu
Lalu keduanya memikatku

IV
Lamin Etam memang indah tapi kau tetap yang paling indah
Pada Samboja, hujan menghambur rintiknya, halus bagai salju, sejuk bagai tatapmu
Lamat lamat bulirnya membesar, menghamburi kaca mobil, suaranya berisik berirama, kita menyaksikannya, serupa Orkestra
Pada kaca, mata kita saling menyapa
Pada kaca, hujan menghanyutkan renjana

V
Prapatan, di beranda rumah
Kuseka lengan kemeja, jarum jam berputar statis bagai kincir Belanda
Kabarnya, besok kau akan pergi, ke bagian barat Papua
Kepergian dan meninggalkan adalah sepasang kekasih
Bagiku, kau dan aku adalah definisi renjana
Pamitmu adalah pertama dan terakhir tangan kita bersentuhan
Aku tak melihat selamat tinggal pada genggamanmu - aku selalu merasa mesra
Namun aku keliru - mesramu semu
Kau adalah wujud kefanaan
Damba tak selalu berujung jumpa
Begitu pula rindu tak selalu berujung temu




Puisi setelah lima purnama wdy

Komentar