Langsung ke konten utama

Desa Budaya Pampang

Desa Budaya Pampang

Rute menuju Desa Budaya Pampang  
Dari kota Samarinda waktu yang di tempuh untuk tiba di Desa budaya Pampang sekitar 45 Menit, rutenya tidak terlalu rumit, hanya saja karena jalurnya merupakan jalan lintas Samarinda—Bontang, lantas perlu berhati - hati karena sepanjang jalan kita akan berpapasan dengan iring-iringan mobil bermuatan berat seperti mobil tangki dan truk logistik, selain itu terdapat pula banyak tanjakan dan tikungan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 35 menit dari Kota Samarinda, disisi kiri jalan kita akan menjumpai gapura yang merupakan gerbang pintu masuk ke Desa budaya Pampang. Perjalanan belum tuntas, kita harus menempuh jarak sekitar 5 km lagi untuk benar-benar tiba di Desa budaya Pampang. Kali ini rutenya sedikit berbeda, jalannya terbuat dari cor beton. Sekitar dua kilometer pertama, sepanjang perjalanan kita hanya akan menjumpai hutan pada sisi kiri dan kanan jalan, kemudian kita akan memasuki sebuah perkampungan. Setiba di perkampungan kita akan bertemu pertigaan, disisi kanan pertigaan terdapat gerbang menuju desa budaya Pampang


Rumah Lamin Adat Pemung Tawai
Di sebelah Kiri jalan terdapat sebuah Rumah berbentuk memanjang (Rumah Lamin) dengan halaman yang luas, rumah bernuansa etnik lengkap dengan ukiran dan perpaduan warna yang indah. Pada sudut halaman terdapat sebuah gerbang, pintu masuk untuk para pengunjung, disana sudah ada petugas karcis. Tarip untuk dewasa Rp. 25.000 sedangkan remaja dan anak-anak Rp 20.000, halaman yang luas sekaligus menjadi tempat parkir kendaraan pengunjung, disisi kiri dan kanan halaman terdapat barisan pedagang yang berjualan Souvenir khas Kalimantan, seperti tas anyaman, kalung manik, kain etnik, gelang, topi, rompi, dan lain-lain.
Terdapat dua tangga untuk masuk ke rumah Lamin Adat Pemung Tawai, rumah pertunjukan kesenian, satu tangga berada disisi kiri dan satu lagi berada disisi kanan, semuanya terbuat dari kayu Ulin (kayu paling keras di Kalimantan) mulai dari dinding, tiang, hingga tangga, semua diukir sedemikian rupa, sehingga kesan budaya mulai terasa ketika kita mengijakkan kaki ke tangga memasuki rumah Lamin. Setelah menaiki tangga, kita akan melihat sebuah teras yang luas, teras yang menyerupai panggung pertunjukan teater, disisi kiri, kanan, dan depan panggung terdapat bangku panjang yang berbaris, polanya berundak bagai susunan bangku bioskop, semakin ke belakang semakin tinggi. Satu bangku bisa menampung sekitar delapan orang, kalau dihitung jumlah, kira-kira keseluruhan bangku bisa menampung sekitar 250 penonton. Saya sarankan anda duduk di bangku barisan pertama atau kedua pada bangku yang berada di bagian depan panggung, karena setelah acara dimulai, ada banyak hal yang menggugah untuk di dokumentasikan dengan kamera.
Pada panggung pertunjukan, terdapat dua lampu putih untuk menambah penerangan, beberapa kipas, dan Speaker sebagai pengeras suara. Ukiran burung Enggang menggantung terlihat bagai nyata dilangit-langit panggung pertunjukan, dibawahnya terdapat sebelas lembar kain warna-warni yang dijalin, kain ini merupakan properti salah satu jenis tarian yang nantinya akan ditampilkan. Disisi kiri dan kanan panggung terdapat dua pintu, dari sanalah nanti para penari akan keluar dari Backstage menuju panggung pertunjukan.

Waktu Pertunjukan Seni
Acara pementasan seni dimulai Pukul 14.00, namun petikan Sape sudah mengalun sejak Pukul 10.00 bahkan beberapa petuah adat bertelinga panjang lengkap dengan pakaian adatnya telah menempati kursi bagian depan. Di belakang barisan kursi bagian kiri panggung, terdapat para Ibu-ibu bertelinga panjang lengkpap dengan tutup kepala dari kulit kayu tengah berjualan hasil alam desa setempat, seperti aneka sayur, jamur, dan buah.
Tiga orang tua dan satu masih agak muda yang sekaligus pembawa acara, mereka memainkan Sape, petikannya sangat indah, sehingga kita tidak akan merasa bosan sedikitpun menunggu pementasan dimulai. Terlihat anak kecil keluar masuk dengan pakaian adat Dayak, mereka merupakan penduduk setempat yang tengah bersiap tampil, beberapa di dampingi Ibunya.
Acara dimulai, seorang Pria muda memandu acara, membuka dengan doa bersama, kali ini doa dipandu oleh Pendeta Imanuel. Mayoritas masyarakat di desa Pampang beragama Kristen, tapi sebelumnya pembawa acara sudah mempersilahkan bagi pemeluk Agama lain untuk berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Setelah berdoa, kemudian pembawa acara menyapa penonton berdasarkan asal Kota atau Negara masing-masing, nama Kota dan Negara disebut satu-persatu berdasarkan data pada buku kunjungan, ketika Kota atau Negara asalnya disebut, penonton wajib berdiri sebagai wujud perkenalan dengan tetuah adat, warga, dan penonton lainnya, tepuk tangan riuh gemuruh ketika nama- nama Kota disebut, keakraban seisi ruangan mulai terbentuk berkat metode pengenalan yang sangat asik ini.

Terdapat 10 Jenis Tarian, 3 diantaranya melibatkan penonton
Mula-mula pembawa acara menjelaskan tentang rumah Panjang (Rumah Ulin) tempat kami berkumpul, mulai dari kenapa disebut rumah panjang, kenapa bentuknya memanjang dan kenapa sekarang tidak ada lagi di masyarakat umum. Penjelasannya sangat detail, bahkan hingga filosopi ukiran dan warna pada bngunan semua dipaparkan dengan gaya bahasa yang menarik di iringi dengan petikan Sape yang menenangkan. Selanjutnya pembawa acara menjelaskan beberapa aturan sebelum pementasan dimulai, diantaranya, boleh mengambil gambar atau video selama pementasan, asal tidak mengganggu pandangan penonton yang berada di belakang. Kemudian pembawa acara memaparkan bahwa nanti akan ada 10 jenis tarian yg akan ditampilkan, tiga diantaranya perwakilan 8-10 penonton diperbolehkan ikut menari, yaitu tari Jalin, Pampaga, dan tari Lingling.
Tarian pertama dimulai, seorang Pria tua dengan pakain dari kulit kayu, tutup kepala dari bulu burung, sebilah Mandau dan Perisai,  ia manampilkan tari sambutan diiringi dengan alunam Sape, selanjutnya masih tari sambutan, tapi kali ini dibawakan oleh Remaja Perempuan dan anak-anak, penonton dibuat terpukau oleh penampilan gadis Dayak yang terlihat sangat cantik dan natural dengan pakaian adatnya, diakhir tarian penonton tertawa gemas melihat anak kecil berusia sekitar lima tahun ikut menari dibarisan belakang, lengkap dengan pakaian adat, mereka terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Setelah penari kembali ke belakang panggung, pembawa acara menjelaskan bahwa penari yang kecil tadi sengaja diikut sertakan sejak dini,  tujuannya untuk mengenalkan tarian adat supaya kelak mereka bisa jadi penerus kebudayaan, terutama dalam hal ini budaya tarian. Menurut saya ini adalah cara yang sangat efektip, melibatkan sebelum mewariskan.
Setiap diawal dan akhir masing-masing tarian pembawa acara selalu menjelaskan sejarah, filosopi, simbol, makna, dan pesan yg terkadung pada tarian, sehingga penonton benar-benar mendapat pemahaman dan pengetahuan tentang tarian budaya Dayak Kenya. Selanjutnya ada tarian Jalin, pada tarian ini sebelas penari akan memegang sebelas helai kain yang menggantung terikat pada kaki ukiran burung Enggang di langit-langit panggung pertunjukan, mula-mula penari akan berkeliling membuka helai kain yang terjalin, setelah kain terbagi menjadi sebelas bagian, pembawa acara mempersilahkan 12 orang penonton untuk ikut serta menari, pada tarian ini sebelas penonton akan mendampingi penari berkeliling, menjalin kembali sebelas helai kain tadi.
Sayangnya saya berada di bangku baris ketiga, saat setengah perjalanan menuju panggung sudah ada 14 orang yang maju. Penonton lain brsorak menyaksikan temannya yang terlihat kaku berputar-putar. Selanjutnya tari Pampaga sebelum tarian dimulai pembawa acara menjelaskan bahwa tarian ini melambangkan sebuah perangkap yang sengaja dibuat untuk mengusir hama. Propertinya terbuat dari duah bambu besar sebagai penyanggah, dan empat tongkat yg terbuat dari kayu ulin, kayu paling keras di Kalimantan, kayu ini akan mematahkan leher burung dan hama lainnya yang masuk perangkap, singkat pembawa acara menjelaskan. Mula-mula tarian diperagakan oleh 12 penari perempuan secara bergantian, kemudian pembawa acara mempersilahkan penonton yang ingin “Uji nyali ucapnya menggoda menakuti, tidak ingin ketinggalan kedua kalinya, saya langsung maju dan berada di baris ke 6 dari 10 penonton  yang maju, sebelum kami ikut menari, kami diberi penjelasan aturan mainnya, sementara pembawa acara lagi-lagi bergurau menakuti kami,
“Kayu ulin adalah kayu yang paling keras, kalau kaki terjepit sembuhnya paling cepat 10 hari atau patah”
 
Penari menjelaskan aturan main, sebelum penonton ikut serta dalam Tari Pampaga
Beberapa penonton terlihat cemas, ada juga yang meperhatikan penjelasan penari dengan amat serius supaya terhindar dari cidera. Anehnya selama tarian berlangsung, sedikitpun saya tidak merasa takut meski berkali-kali ditakuti, mungkin karena genggaman penari telah menguatkan dan memberi keyakinan padaku bahwa semua akan baik-baik saja selama kami menari bersama.

Sesi foto-foto setelah pementasan Tarian
‌Tarian demi tarian pun berlalu, tibalah pada tarian penutup, semua penonton dipersilahkan ikut menari, berkeliling di atas panggung diiringi alunan Sape. Tari penutup pun berhasil membuat suasana sangat akrab antara penonton, masyarakat desa, penari, dan para petuah adat yang ada di panggung. Lalu, pembawa acara mengumumkan bahwa kita sudah memasuki acara yang terakhir, yaitu acara foto-foto.

Pada pintu keluar panggung, sudah ada penjaga karcis foto, harga satu karcisnya Rp 20.000 untuk tiga kali berfoto, terserah dengan siapa saja, tetua adat bertelinga panjang, para penari Perempuan, penari Laki laki, atau penari Cilik. Tidak hanya itu, kita juga bisa menyewa properti untuk berfoto, seperti pakaian adat, rompi manik, mandau, perisai, dan properti lainnya.

Komentar