GNAWAR
Oleh Efriansyah
“Bergegaslah!
Ulu ayek1 sudah gelap, sebentar lagi sungai akan rawang2.”
Ibu
mengingatkan Dirman, sambil menyusun kayu bakar kedalam keranjangnya. Dirman
pun berlarian menuju tumpukan padi yang sudah diarit, kemudian menutupnya
dengan sebentang terpal. Kambing peliharaannya pun harus pulang lebih awal,
Dirman buru-buru menggiring ke kandang kemudian dikunci rapat. Terakhir, ia
harus memastikan pintu air kolam sudah ditutup rapat sebelum pulang.
“Ayo
pulang nak, pintu pondok sudah kau kunci kan?” Kata Ibu memastikan sekali lagi.
Dirman
dan Ibunya beregegas pulang, walaupun sebenarnya waktu masih pukul dua siang.
Belum ada petani yang pulang, hanya Dirman dan Ibunya. Hal itu membuat mereka
berbeda dari petani lainnya.
Dirman
tidak pernah tahu kenapa Ibunya begitu takut ketika melihat ulu ayek sudah
gelap, seakan-akan ia melihat ada sesuatu yang sedang mengancamnya, sesuatu
yang harus segera dihindari, yang bila sedikit terlambat bisa saja merenggut
nyawa. Entahlah, sejauh ini yang Dirman tahu, ia harus bergegas tanpa
diperintah ketika ulu ayek sudah gelap, terlebih ketika Ibunya sudah menyusun
kayu bakar pada keranjangnya.
Sebenarnya
memang sudah menjadi tradisi penduduk desa. Bergegas pulang ketika ulu ayek
sudah gelap. Namun, itu perlu dicemaskan bila gelapnya ulu ayek disertai dengan
guntur, setidaknya enam atau tujuh dentuman. Ketika dentuman guntur sudah
terdengar, itu artinya hujan tidak hanya mengguyur ulu ayek, tetapi sudah
mengguyur bagian hilir juga. Dan itu berarti bahwa semakin banyak air hujan
dari bukit yang mengalir ke sungai, maka kemungkinan air sungai meluap dan
terjadinya rawang semakin besar. Begitulah dalih para penduduk desa yang
mayoritas bersawah di seberang sungai.
Dalam
hal memperkirakan datangnya rawang, Ibu Dirman memang terlihat memiliki tingkat
kekhawatiran yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan petani lainnya. Ia
seolah sedang mencium aroma maut yang tak pernah terendus oleh petani lainnya.
Tidak jarang, bahkan hampir setiap Dirman dan Ibunya pulang dari sawah,
setengah berlari, karena takut kerawangan, sepanjang jalan ia mendapati
petani lain masih bekerja seperti biasanya, mereka sama sekali tidak terlihat
khawatir. Orang-orang yang berpapasan di jalan pun hanya tersenyum atau menyapa
kepada Dirman. Ya, mereka hanya menyapa Dirman, tidak kepada Ibu Dirman. Mereka
seakan mengerti bahwa perihal rawang, Ibu Dirman mempunyai trauma tersendiri.
Lagipula mereka takut dikira memperolok, karena Ibu Dirman sangatlah sensitif
dengan kata rawang.
Dirman
mulai merasa aneh, sepertinya ada yang janggal dari Ibunya perihal rawang. Hari
ini ia berencana akan bertanya langsung kepada Ibunya. Sepulang dari sawah, ia
langsung mencuci piring ketika Ibunya menyusun kayu bakar di salangan3.
Ia menyapu rumah ketika Ibunya menanak nasi. Dirman bersikap lebih rajin dari
biasanya. Begitulah cara Dirman mengenakkan hati Ibunya ketika menginginkan
sesuatu, dan kali ini keinginannya sederhana saja; supaya Ibu mau bercerita
perihal rawang.
Seusai
Sholat Maghrib, Dirman menghampiri Ibunya yang tengah menganyam tikar.
“Bu,
kenapa Ibu begitu takut dengan rawang? Kenapa disebut rawang, Bu?”
Ibu
Dirman menghentikan anyaman. Mula-mula ia menghela nafas dalam-dalam, sedalam
ia menghindari pertanyaan Dirman, sedalam ia menyembunyikan jawaban atas
pertanyaan Dirman. Ia menatap kosong pada cahaya dari sumbu lampu kaleng,
seakan-akan ia ingin meminta cahaya lampu yang bercerita kepada Dirman. Dirman
melihat iba pada tatapan kosong Ibunya, benar-benar diluar dugaan Ibunya akan
bereaksi demikian. Ia menyesal telah bertanya perihal rawang. Ia ingin
mengalihkan pembicaraan, tapi Ibunya lebih dulu menjawab.
“Dirman,
tahukah kamu mengapa kemarin Ibu memarahimu?”
Dirman
hanya terdiam, merunduk.
“Nek
Ija bercerita kepada Ibu di pasar pagi, ketika Ibu membeli gula merahnya.
Katanya, kemarin sepulang dari memancing kau telah membantunya menyeberang
sungai padahal ketika itu ulu ayek
sudah gelap. Bukankah Ibu sudah bilang, jangan berada diseberang sungai bila ulu ayek sudah gelap, apalagi kau masih
memancing disana. Ibu menyayangimu, Nak.”
“Nak,
dengarkan Ibu. Rawang itu memiliki ruh. Dia hidup dan bisa datang kapan saja.
Rawang akan menerpa siapa saja, tak peduli anak-anak, orang tua, perempuan,
atau lelaki, bahkan hewan sekalipun. Rawang adalah bencana.”
Ibu
Dirman bicara dengan sedikit terbata, bibirnya gemetar. Ia seperti orang yang
sedang murka. Entah kepada apa.
Namun,
tiba-tiba matanya menjadi sayu, duka tengah bersarang. Tak pernah sebelumnya
Dirman menyaksikan raut muka yang demikian. Murka berundak duka.
Alih-alih
mendapat jawaban, Dirman malah mendapati beberapa pertanyaan baru. Ada keresahan
yang ingin lekas ia sampaikan, tapi tatapan mata Ibunya membuat Dirman serba
tak tega. Tatapan dari mata yang mulai berkaca. Mata yang di dalamnya tergenang
air yang sengaja dibendungnya.
Pertanyaan
Dirman telah membawa Ibunya pada sebuah duka. Tatapan kosong menjelma tangis.
Menyadari bahwa Dirman melihatnya menangis sedari tadi, Ibunya pun buru-buru
menghapus air matanya. Ia seolah takut kalau anaknya mengetahui bahwa ada duka
yang ia simpan pada peristiwa lalu. Demi menghindari Dirman bertanya lebih
banyak, ia menyudahi anyamannya dan meminta Dirman tidur.
“Tidurlah,
Nak, besok kau mau sekolah. Jangan lupa kunci jendela kamarmu!”
“Ya,
Bu,” Dirman menjawab singkat. Ia tahu betul bahwa Ibunya ingin segera menyudahi
percakapan.
Di
dalam kamar, ia tidak benar-benar langsung tidur bahkan jendela tidak lekas
dikuncinya. Ia merebahkan badan, kepalanya menghadap ke langit-langit kamar.
Dirman seolah memikirkan sesuatu yang menarik. Ia mencoba menganalisa sendiri,
menghubungkan beberapa peristiwa, kemudian mengaitkannya kepada bahasa wajah
dan sikap Ibunya tadi. Setelah mengaitkan beberapa peristiwa, ia belum juga
menemukan kesimpulan yang memuaskan. Dirman bingung.
Angin
malam yang lembab menyelinap melalui jendela, rasa kantuk menghinggapi tubuh
Dirman, namun ia belum juga tidur sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bertanya
kepada orang lain, yaitu kakeknya sendiri.
“Ah,
barangkali kakek bersedia bercerita sepulang dari ladang besok, aku hanya perlu
membuatkan segelas kopi dan memijatnya di bale bambu bawah mangga, tempat ia
biasa beristirahat siang.”
Merasa
rencananya sudah cukup baik, kemudian Dirman menutup jendela dan tidur.
***
Seorang
lelaki tua dengan perawakan kurus, bertelanjang dada, terlihat sedang memutar tuning radio butut, antenanya
yang patah di sambung dengan lilitan kabel. Sehelai baju tersandang pada
bahunya yang kering. Bale bambu yang diteduhi rimbun pohon mangga menjadi
pilihan tempat istirahat siangnya. Lagu lawas disertai suara gemerisik pun
sudah cukup membuatnya terhibur. Sambil menggulung tembakau dengan nipah,
sesekali dengan suara serak ia menirukan nyanyian pada radio.
Seorang
anak menghampirinya, mula-mula ia bertanya cara membuat bubu4,
kambu5, dan cara membentuk aur pancing. Setelah
mendapat jawaban, kemudian ia menawarkan diri untuk menyeduhkan kopi, sayangnya
sang kakek sudah membuat kopi sendiri. Kemudian ia menawarkan diri untuk
memijat sang kakek.
Tanpa
merasa heran, sebenarnya sang kakek sudah tau bahwa ada sesuatu yang diinginkan
cucunya. Barulah ia ingin memastikan, namun sang cucu lebih dulu bertanya.
“Kek, kenapa Ibu takut sekali kepada rawang? Kenapa disebut rawang,
Kek?”
Kakek
terdiam, sepertinya sedang merangkai ulang peristiwa lalu, peristiwa yang
enggan ia ceritakan sebelumnya. Namun, segera sang cucu mendesaknya sambil
menggoyangkan badan sang kakek.
“Ayo,
Kek, ceritalah. Kemarin Ibu tak mau bilang apa-apa ketika kutanya. Kepada siapa
lagi aku bertanya kalau bukan kepada kakekku sendiri?”
“Sepertinya
Dirman sudah cukup besar untuk tahu tentang Ibu, bahkan keluarganya,”
gumam kakek dalam hati, demi meyakinkan dirinya untuk memulai bercerita.
“Jadi
begini, Dirman...”
Kakek
mulai bercerita, Dirman pun tampak sangat antusias, dia hanya memandangi wajah
kakek, tidak berkata sepatah pun demi mendengarkan cerita secara utuh.
***
“Dulu kau punya saudara, ia
meningggal karena hanyut, saat itu usiamu masih tiga bulan dalam kandungan.
Kejadiannya pada hari Minggu. Libur sekolah, kakakmu ikut bersama ibu dan
bapakmu ke sawah. Sekitar pukul setengah lima sore, ulu ayek sudah gelap, bahkan mendung sudah menutupi langit sawah.
Mereka pulang tergesa-gesa, karena takut sungai meluap ketika atau sebelum
mereka menyeberang. Mereka pulang bersama petani lainya. Setibanya di sungai,
air mulai meluap perlahan. Setelah menyeberangkan kakak dan ibumu, ayahmu
membantu menyeberangkan orang tua lainnya.
“Mula
kejadiannya begini, Waktu itu ayahmu tengah menjunjungkan karung padi ke
kepalanya, namun tiba-tiba kakakmu berteriak,
‘bapak, tolong
seberangkan nenek! itu nenek di tengah sungai, kasihan nenek.’
“Ia
seolah melihat nenekmu sedang menyeberang. Padahal nenekmu sudah meninggal
karena hanyut, tujuh hari sebelum kejadian tersebut. Baru saja ayahmu
menurunkan karung padi di kepalanya, kakakmu sudah berlari ke tengah sungai, ia
berlari menuju nenekmu
yang memanggil-manggil namanya. Padahal ketika itu permukaan sungai sudah
tinggi, bahkan menanggam6. Dalam sekejap kakakmu menghilang
ditelan arus sungai yang keruh lagi deras. Semua orang panik, mereka menangis
histeris, berteriak. Yang terlihat hanyalah kayu-kayu besar yang dibawa arus,
yang terdengar hanyalah gemuruh arus sungai yang tiba-tiba mengerikan, suara
batu yang saling bertabrakan didalam arus sungai, siap menghantam siapa saja
yang ada didalamnya. Ayahmu ingin terjun ke sungai menyusul kakakmu, namun
orang-orang menahan dan berusaha menyadarkannya, air sudah terlalu besar.
“Ayahmu
tersungkur, menengadah, dan panik. Bersama petani lainnya ia menyusuri tepian
sungai. Sementara Ibumu, ia menangis sejadi-jadinya kemudian tak sadarkan diri,
orang-orang membawanya ke desa dengan tandu. Setibanya di desa semua orang
dikerahkan, ada yang menyusul ke sungai, menyisir dari hilir, ada yang melapor
ke polisi, dan ada pula yang menemui orang pintar. Semua orang ikut mencari
hingga malam. Lampu petromak, senter, dan obor tampak bersilangan ditepi
sungai. Polisi hanya bertahan sampai maghrib. Setelah mengambil foto sungai dan
beberapa warga, mereka pulang. Pencarian oleh warga berhenti pukul 11 malam,
itu pun atas perintah dukun yang telah menerawang melalui air kembang tujuh
rupa dan ramuan lainnya, termasuk asap kemenyan dan nama orang yang hanyut.
Adapun pendapat dukun,
Adapun pendapat dukun,
‘Ia
sudah meninggal, tidak bisa ditemukan malam ini. Besok pagi baru bisa diambil jasadnya di lubuk
kepahyang, temui aku pukul tujuh pagi, kita perlu menyiapkan beberapa sesajen.’
“Rumahmu
ramai oleh warga, mereka bergantian berjaga semalaman. Takut, kalau saja ayah
atau Ibumu menyusul ke sungai. Dua buah lampu petromak menyala sampai pagi.
Ayah dan Ibumu tidak tidur semalaman tak sabar menunggu pagi, walaupun yang
ditunggu tetaplah kabar duka. Mata ayahmu merah, mukanya kusam, ia enggan makan
meski sudah diingatkan berkali-kali, Ibumu masih terisak sesekali, matanya tak semerah
mata bapakmu, tapi sayunya sangatlah duka.
“Pagi
itu, pukul tujuh warga dan dukun pergi ke sungai. Mereka berkumpul di lubuk
kepahiyang. Polisi yang datang kemarin sore tidak terlihat lagi. Dengan pakaian
serba hitam, sang dukun terlihat lebih mencolok dari warga lainnya. Ia memulai
ritualnya. Mula-mula ia membakar
kemenyan, kemudiaan menabur bunga tujuh rupa pada lubuk, terakhir ia
mencelupkan sehelai kain putih ke pinggir lubuk dan beberapa menit kemudian, mengapunglah
jasad seorang lelaki muda. Dua orang warga diminta untuk membawa jasad ke
darat.
“Mbah
Karyo, begitu nama panggilan dukunnya. Ia adalah dukun yang berpengalaman dan
sering menangani hal serupa, termasuk ketika nenekmu hanyut dahulu, dialah yang
berhasil menemukan jasadnya.
“Setelah
kejadian itu, Ibumu menjadi orang yang pemurung. Ia sangat jarang berbicara,
kecuali ketika ditanya, itupun hanya menjawab sekadarnya saja. Bahkan terkadang
ia hanya menjawab dengan gelengan atau anggukkan kepala saja. Melihat kondisi
Ibumu yang demikian, orang-orang mulai menjadikannya sebagai bahan gunjingan.
“Lihatlah
Gnawar, seperti orang gila dia sekarang. Kerjanya hanya diam saja.”
“Benar,
lagipula dia juga sering murung sekarang. Sudah setres barangkali dia.”
Belum
hilang kedukaan atas berpulangnya kakakmu, Ibumu kembali tertimpa musibah. Kali
ini, Bapakmu
yang harus menjadi korban rawang.
Ceritanya begini, suatu hari, sekitar pukul lima sore, ayah dan ibumu beranjak pulang dari sawah. Celakanya, setiba di sungai, air telah meluap. rawang cukup besar, namun bapakmu masih bisa mengatasinya, ia mencari bagian sungai yang masih ulak7, kemudian menentukan dimana titik awal menyeberang dan dimana ia akan mendarat. Bapakmu memang sudah mengusai sungai, ia sering membantu orang-orang menyeberang. Ia selalu punya cara ketika berhadapan dengan sungai. Tapi tidak kali ini, mula-mula ayahmu memegang pergelangan tangan Ibumu, mereka menyeberang sungai berpapahan.
Ceritanya begini, suatu hari, sekitar pukul lima sore, ayah dan ibumu beranjak pulang dari sawah. Celakanya, setiba di sungai, air telah meluap. rawang cukup besar, namun bapakmu masih bisa mengatasinya, ia mencari bagian sungai yang masih ulak7, kemudian menentukan dimana titik awal menyeberang dan dimana ia akan mendarat. Bapakmu memang sudah mengusai sungai, ia sering membantu orang-orang menyeberang. Ia selalu punya cara ketika berhadapan dengan sungai. Tapi tidak kali ini, mula-mula ayahmu memegang pergelangan tangan Ibumu, mereka menyeberang sungai berpapahan.
Setibanya diseberang,
ayahmu melihat kakakmu sedang kesusahan ditepi sungai, ia menangis sendu minta
tolong.
Kemudian
bapakmu berteriak spontan,
‘Tunggulah,
Nak! Bapak akan menjemputmu’
“Ayahmu
terjun ke sungai, padahal air sudah menanggam. Ibumu tidak dapat melihat
dengan jelas. Ketika ia menurunkan keranjangnya yang berisi kayu bakar, bapakmu sudah hilang ditelan sungai. Kejadiannya begitu
cepat, persis seperti ketika kakakmu hanyut, ketika kakakmu seolah sedang
melihat nenekmu.
“Yang
terlihat oleh ibumu hanyalah sungai yang keruh dan mengerikan, ayahmu hilang
dalam sekejap mata. Ibumu yang kebingungan, berlari menuju desa dan meminta
pertolongan warga terdekat.
“Jasad
Bapakmu ditemukan di hulu lubuk kepahyang, pencarian pun melibatkan dukun yang
sama, mbah Karyo. Bapakmu lalu dikebumikan didekat pusara kakakmu.
“Sejak
kejadian itu, ibumu semakin murung. Bagaimana tidak, dalam dua bulan ia
kehilangan tiga anggota keluarganya, dalam peristiwa yang sama dan kejadiannya
pun berlangsung di depan matanya sendiri.
Ibumu
hanya mengurung diri di rumah, ia tak mau ke sawah atau ke sungai, ia benar-benar
trauma. Pada akhirnya, semua itu hanya
berlangsung beberapa bulan saja. Setelah kau lahir, ia mau ke sawah lagi. Ia
terpaksa karena harus mencari uang untuk menghidupimu. Sikapnya yang suka
menyendiri dan pemurung semakin bertambah parah. Sekarang ia selalu ketakutan
saat sungai meluap, ia takut kejadian kemarin terulang lagi. Setiap ulu ayek sudah gelap ia akan buru-buru
pulang demi menghindari rawang.
Banyak orang yang menggunjing tentang Ibumu, ada yang
mengatakan ibumu pembawa sial, sehingga tidak ada satu orang pun yang mau
menyeberang sungai bersamaan dengan ibumu, adapula orang tua yang menakut-nakuti anaknya,
“awas
jangan bermain di sungai, nanti kau dihanyutkan Gnawar”
Ketika hujan lebat
orang-orang pun menyebutkan,
“Gnawar akan datang, siapa lagi yang
jadi korban?”
Atau
ketika ulu ayek sudah gelap, dan
dentuman guntur sudah terdengar, para petani akan bilang, “mari pulang, nanti
Gnawar memakan korban lagi”
Masyarakat
pun semakin terbiasa menggunakan kata Gnawar dalam berbagai hal yang berkaitan
dengan banjir. Karena merasa tidak pantas, merasa bahwa hal itu dapat melukai
hati Ibumu, akhirnya pada suatu acara pertemuan desa, kakek meminta agar Pak
Kades sekalian
menyampaikan kepada masyarakat supaya tidak menggunakan nama Gnawar dalam
berbagai hal yang berkaitan dengan banjir. Masyarakat menyetujui permintaan
tersebut, bahkan salah satu perwakilan dari mereka sempat menyampaikan
permintaan maafnya. Namum, karena sebutan tersebut sudah terlanjur melekat,
akhirnya masyarakat membalik penyebutannya dari Gnawar menjadi Rawang.
Sampai saat ini
istilah rawang masih dipakai dalam bahasa sehari-hari”
***
Kakek menutup cerita
sambil menyeruput kopi. Dirman hanya mengangguk-angguk, keseluruhan cerita dari
kakek begitu jelas, ia tidak butuh bertanya lagi.
Akhirnya Dirman bisa
memahami semuanya. Ia berterimakasih kepada kakek dan pamit pulang. Setibanya
di rumah, ia mendapati Ibunya tengah menyusun kayu bakar pada salangan.
Ibunya sudah pulang dari sawah, padahal hari masih pukul setengah satu. Dirman
kembali ke jalan, melihat ke arah ulu
ayek, dan dilihatnya ulu ayek
sudah gelap. Ia menatap iba kepada Ibunya, kemudian berkata, “Bu, Dirman sayang
Ibu.
Tamat
1Ulu
Ayek :
Hulu air, hulu sungai (berupa bukit barisan yang bisa dilihat dari
perkampungan)
2Rawang :
Banjir, suatu keadaan ketika sungai meluap secara perlahan
3Salangan :
Tempat menyusun kayu bakar
4Bubu :
Perangkap ikan/udang yang terbuat dari anyaman bambu
5Kambu :
Anyaman rotan yang digunakan untuk menyimpan ikan ketika memancing
6Menanggam : Banjir, suatu
keadaan ketika sungai meluap dengan cepat
7Ulak :
Bagian arus
sungai yang tenang
Komentar
Posting Komentar