LATAR SUASANA
Suara orang berbincang
saling berundak—serupa pasar malam di pedesaan, tawa saling bersilang, membuat
yang mendengarnya ikut tertawa. Asap rokok mengepul diberbagai sudut. Para
perokok enggan duduk di bangku bagian tengah, canggung, mengurangi kekhusukan
menghisap tembakau, katanya. Lalu, meja barisan tengah dihuni oleh para gadis
muda, pria bukan perokok, dan pasangan muda. Mereka lebih ramai dari kepulan
asap rokok, bermain catur, kartu, atau sekedar menyusun balok plastik yang dinamai
Uno. Teriak hebo dan tawanya memecah
kepulan asap rokok, para perokok tidak terusik, mereka abai, tetap santai
dengan obrolan kritisnya.
Lalu, disisi lain pada
bangku baris belakang, Bahar—seorang pria yang tak pernah menjatuhkan hatinya
ke perempuan manapun setelah patah hati terdalamnya tujuh tahun yang lalu,
sekarang ia menjadi seorang pekerja keras, jauh dari pemikiran hal-hal yang
berkaitan dengan percintaan. Berbeda dengan orang pada umumnya, yang datang ke
café ini bersama pasangan, teman, atau bahkan beramai bersama rekan sekantor. Bahar
hanya sendiri, dan selalu sendiri,ia saling tatap dengan komputer jinjing,
headsed menyumpal kedua lubang telinga, secangkir kopi dan beberapa lembar
kertas berserak dimejanya, dia lebih abai dari perokok yang mengabaikan
cekikikan para gadis muda di meja tengah. Sedikitpun ia tidak memperhatikan
situasi sekitar, hanya menatap tajam pada layar komputer jinjingnya, sesekali
ia mengerenyitkan dahi, lalu menyingkap, memilah pada kertas yang berserakan.
Baginya,ia sedang bekerja diruang pribadi, bukan pada sebuah café, begitulah
setiap hari, di meja yang sama.
***
Laura—seorang gadis yang sedang patah hati. Kekasihnya pergi dan tak akan pernah kembali. Mulanya, di beranda rumah, sang kekasih berpamitan akan pergi ke bagiat Timur pulau Kalimantan, ia menjanjikan akan membawa serta Laura bila sudah menjadi pegawai tetap. Bersamaan dengan janji, ia berpesan pula, supaya Laura tidak memberi hati pada lelaki lain. Malam itu, keduanya merasa takut kehilangan satu sama lain. Laura menangis, lalu kekasihnya mendekap sembari meyakinkan sekali lagi bahwa semua akan baik-baik saja. Isaknya benar-benar berhenti setelah sekitar dua menit ia menyandarkan kepala pada dada bidang kekasihnya. Suasana dramatis ini benar-benar berhenti ketika sang kekasih meninggalkan beranda rumah, mata Laura masih saja sendu, mengikuti kekasihnya hingga tak terlihat lagi setelah motornya memasuki sebuah gang.
Laura—seorang gadis yang sedang patah hati. Kekasihnya pergi dan tak akan pernah kembali. Mulanya, di beranda rumah, sang kekasih berpamitan akan pergi ke bagiat Timur pulau Kalimantan, ia menjanjikan akan membawa serta Laura bila sudah menjadi pegawai tetap. Bersamaan dengan janji, ia berpesan pula, supaya Laura tidak memberi hati pada lelaki lain. Malam itu, keduanya merasa takut kehilangan satu sama lain. Laura menangis, lalu kekasihnya mendekap sembari meyakinkan sekali lagi bahwa semua akan baik-baik saja. Isaknya benar-benar berhenti setelah sekitar dua menit ia menyandarkan kepala pada dada bidang kekasihnya. Suasana dramatis ini benar-benar berhenti ketika sang kekasih meninggalkan beranda rumah, mata Laura masih saja sendu, mengikuti kekasihnya hingga tak terlihat lagi setelah motornya memasuki sebuah gang.

Komentar
Posting Komentar