Langsung ke konten utama

Postingan

Berpuisi

Lima A degan Efriansyah I Sebuah Cafe di Balikpapan Baru Pada bangku bangku berkerumun para D ara Pada plafon berbaris lampu - lampu Lalu kau tampak berpijar menyerupa lampu Menyilaukan,   menyelinap, me m asuki pikiranku II Dari R esepsi menuju B ioskop Anggun nian kau hari ini, serupa teduh Hai silauku lima puluh hari yang lalu Aku rindu meski enggan menatapmu Dalam keramaian para D ara berkebaya, ingin aku menggandengmu, bersilang siku bagai raja dan ratu Walau sebenarnya aku hanya termangu menatapmu *** Film dimulai, lampu B ioskop dimatikan Aku menatapmu, kau berpijar lagi Aku lebih memilih silau ketimbang layar Aku melewatkan film tapi tidak melewatkanmu III Angkringan Kita berhadapan - malu - bergantian menatap Kau menaruh siku diatas meja, aku juga supaya seirama Kita tak banyak bicara, tapi aku merasa mesra Aku menghafal aroma dan rautmu Lalu keduanya memikatku IV Lamin Etam memang indah tapi kau t...

GNAWAR

GNAWAR Oleh Efriansyah “Bergegaslah! Ulu ayek 1 sudah gelap, sebentar lagi sungai akan rawang 2 . ” Ibu mengingatkan Dirman, sambil menyusun kayu bakar kedalam keranjangnya. Dirman pun berlarian menuju tumpukan padi yang sudah diarit, kemudian menutupnya dengan sebentang terpal. Kambing peliharaannya pun harus pulang lebih awal, Dirman buru-buru menggiring ke kandang kemudian dikunci rapat. Terakhir, ia harus memastikan pintu air kolam sudah ditutup rapat sebelum pulang. “Ayo pulang nak, pintu pondok sudah kau kunci kan?” Kata Ibu memastikan sekali lagi. Dirman dan Ibunya beregegas pulang, walaupun sebenarnya waktu masih pukul dua siang. Belum ada petani yang pulang, hanya Dirman dan Ibunya. Hal itu membuat mereka berbeda dari petani lainnya. Dirman tidak pernah tahu kenapa Ibunya begitu takut ketika melihat ulu ayek sudah gelap, seakan-akan ia melihat ada sesuatu yang sedang mengancamnya, sesuatu yang harus segera dihindari, yang bila sedikit terlambat bisa saja ...